DRAMA MUSIKAL PARADOKS “SIAPA YANG GILA ?”

BANDUNG – Sabtu, 17 September 2016 UKM-F Psikologi Unisba yaitu Kabaret Ungu (KBU) telah sukses mengadakan pagelaran drama musikal ke duanya yaitu PARADOKS ( Pagelaran Drama Musikal Psikologi Kajian Skizofrenia ) yang berjudul “ Siapa Yang Gila? “. Pagelaran KBU ini diselenggarakan di Taman budaya Jawa Barat, Dago tea house. Acara ini terdiri dari dua sesi, sesi pertama di mulai dari pukul 12.00 WIB dan sesi kedua di mulai pada pukul 19.00 WIB.

4
Talkshow bersama Ilmi Hatta, Gema Gumelar, Adi Nugroho, dan Akmal Rachman. (Foto oleh : Danny Rusmono)

Pagelaran drama musikal pada sesi pertama di buka dengan acara talkshow bersama Ilmi Hatta selaku dosen Fakultas Psikologi, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia, Gema Gumelar. Penderita Skizofrenia, Adi Nugroho dan sutradara drama musikal PARADOKS “ Siapa Yang Gila? “ Akmal Rachman. Talkshow ini membahas tentang gangguan skizofrenia tersebut. Disini, penonton yang hadir diberikan informasi secara jelas oleh narasumber mulai dari pengertian skizofrenia itu sendiri, ciri-ciri orang yang mengalami skizofrenia, cara penyembuhannya dan sharring pengalaman langsung oleh orang penderita skizofrenia. Akmal Rachman sebagai sutradara menambahkan, diangkatnya tema ini dikarenakan adanya fenomena skizofrenia yang ia jumpai di lingkungan masyarakat namun masih menjadi pertanyaan sebenarnya “ siapa yang gila? “. Lalu diangkatlah tema ini yang kebetulan menjadi pagelaran drama musikal yang bersangkutan dengan Psikologi klinis setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan pagelaran pertamanya dengan tema Filsafat Psikologi.

Setelah talkshow berlangsung, para penonton langsung disuguhkan dengan penampilan drama musikal yang sangat menakjubkan. Drama musikal ini diperankan oleh Nuzul ( Psikologi 2013 ) sebagai Zofski, Vianda ( Psikologi 2014 ) sebagai Renia, Indah ( Psikologi 2014 ) sebagai Hexe, Ryan ( Psikologi 2014 ) sebagai Schmeiler dan Ahkmad Rozaq ( Psikologi 2014 ) sebagai Hamwa.

5
Zofski bersiap melakukan perkelahian melawan penculik Reina (Foto oleh : Danny Rusmono)

Cerita ini berkisah tentang Zofski bos dari geng mafia yang telah memenangkan pertempuran bersama anak buahnya mengadakan pesta kemenangan, lalu beberapa anak buahnya yang sudah tidak lagi memihak kepada Zofski ingin sekali menghancurkannya. Mereka menyadari, tidak bisa mengalahkan Zofski lewat peperangan karena ia sangat kuat dan berinisiatif mencari kelemahannya yaitu dengan menculik anaknya. Tetapi upaya tersebut tidak berjalan dengan baik karena mereka tertangkap kembali oleh sebagian anak buah Zofski yang melakukan pengejaran. Zofski pun membuat kesepakatan kepada anak buahnya yang berkhianat, ia akan membebaskan mereka apabila menang dalam perkelahian satu lawan satu. Namun sayangnya, mereka semua mati di tangan Zofski dan Schmeiler yang tidak sengaja menembaknya.

Dalam pertunjukan ini, penonton dibawa untuk berimajinasi mendalami pikiran Renia. Boneka yang sering dipegangnya yang bernama Hamwa, berubah menjadi badut yang nyata. Apa yang orang lihat tentang Reniaa yang sering berbicara sendiri dengan bonekanya, ternyata Renia mempunyai dunia tersendiri dengan bonekanya tersebut. Dalam beberapa adegan terjadi percakapan antara Renia dengan Hamwa, disini terlihat sosok Hamwa yang memang setia menemani dan menghibur Renia.

Namun, Zofski ayah dari Renia masih terlihat bingung dengan keadaan yang dialami oleh anaknya tersebut. Schmeiler yang melihat bosnya termenung itu berusaha menjelaskan bahwa Renia mengalami gangguan yang disebut Skizofrenia. Tetapi Zofski masih mengelaknya dan tetap termenung. Akhirnya Schmeiler mendatangkan empat wanita yang diharapkan bisa menghibur bosnya tersebut, namun Zofski menolaknya dan meminta Schmeiler untuk berpakaian dan berdandan seperti wanita. Setelah beberapa saat kemudian, Schmeiler datang kembali menemui Zoski sesuai dengan permintaannya. Zofski yang melihat Schmeiler demikian merasa kagum dan sangat menyukainya. Bahkan Zofski tak segan untuk meminta Schmeiler untuk menemani ia tidur. Schmeiler yang sudah merasa tidak nyaman langsung menolak permintaan bosnya namun naas Zofski menyeretnya ke dalam kamar. Disini penonton akan dibuat terkejut bahwa Zofski yang terkenal sebagai bos mafia ternyata adalah seorang Homoseksual.

6
Reina yang sedang bermain dengan boneka Hamwa (Foto oleh : Danny Rusmono)

Dalam adegan berikutnya, Renia yang sedang asyik bermain dengan bonekanya dihampiri oleh ibunya yang datang dengan keadaan mabuk. Ia yang sedang dibawah pengaruh alkohol tersebut menyindir anaknya dengan sebutan “ anak gila “ karena kebiasaanya berbicara dengan bonekanya. Renia yang tidak terima berusaha menjelaskan bahwa ia benar-benar berbicara dengan bonekanya tersebut namun ibunya tidak mau mendengarkan dan justru melempar boneka tersebut. Ia merasa bosan dengan kehidupan yang dihadapinya. Anaknya seperti orang gila, suaminya juga adalah seorang homoseksual. Ia menjelaskan juga alasan ia menikah tidak lain adalah perjanjian kerjasama dan hanya untuk menutupi keburukan dari suaminya tersebut. Setelah itu, Renia yang tak tahan juga dengan kondisi keluarganya berusaha untuk bunuh diri namun Hamwa berusaha mencegahnya. Tak lama kemudian Renia bertemu dengan Schmeiler yang sangat kecewa dengan perlakuan bosnya tersebut. Schmeiler ingin membalaskan dendamnya dengan cara ingin memperkosa Renia, namun Renia berhasil mengambil pistol yang berada di pinggang Schmeiler dan secara tidak sengaja menembaknya. Zofski yang mendengar suara tembakan tersebut langsung keluar dari kamarnya dan memeriksa kondisi Schmeiler yang sudah tidak bernyawa. Zofski yang melihat Renia memegang pistol langsung meminta penjelasan. Renia menjelaskan bahwa Schmeiler berusaha memperkosa dan ia hanya berniat untuk membela diri. Namun, salah satu pelayan Zofski yang mengetahui Renia memiliki gangguan jiwa meminta Zofski untuk mengambil tindakan dengan cara dipasung agar tidak menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi. Zofski pun langsung menuruti permintaan pelayannya dan segera memasung Renia.

7
Hamwa beserta badut-badut lainnya sedang menghasut Renia membunuh serta menghabisi nyawa kedua orang tuanya (Foto oleh : Fitria Ghassani)

Disaat Renia sedang dipasung, datanglah Hamwa beserta badut-badut lainnya untuk menghasut Renia membunuh serta menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Renia pun merasa kebingungan karena imajinasinya menghasutnya untuk membunuh orang tuanya sendiri.

Tak lama kemudian, Renia berpenampilan seperti boneka badut Hamwa yang sering ia pegang dengan membawa sebilah pisau ditangannya. Zofski dan Hexe yang sudah dalam posisi tangan terikat dan mulut disekap pun tidak bisa berbuat apa-apa. Renia pun sempat mencurahkan isi hatinya sebelum membunuh orang tuanya satu persatu. Setelah itu Renia yang puas karena berhasil membunuh kedua orang tuanya tiba-tiba melemparkan pisau ditanganya lalu merasa menyesal dengan apa yang telah ia perbuat. Di akhir cerita, Renia menyampaikan inti dari maksud cerita ini. Seketika penonton pun pecah memberikan apresiasi tepukan tangan kepada para pemeran.

Annisa selaku salah satu penonton dari pagelaran ini mengatakan bahwa “ pertunjukannya keren bangeeet, awalnya kurang faham sama maksud ceritanya tapi setelah itu langsung ngerti banget. Karakternya dapet banget penjiwaanya, musiknya apalagi ngedukung banget ngerasa berada di dalem ceritanya. Selain itu dapet nambah wawasan lagi dari talkshownya, pokoknya udah sepaket mantep semua. Ga sia-sia nyempetin waktu untuk dateng di acara ini dan ditunggu karya selanjutnya “. Akmal Rachman sebagai sutradara juga mengatakan bahwa “ Sebelumnya terimakasih buat semua yg sudah mendukung dan membantu terlaksanya pertunjukan ini, semua teman2 yg sudah banyak mengorbankan waktu tenaga dan biaya. Ini merupakan karya KBU yg ke 2 dalam bentuk pertunjukan drama musikal, tahun lalu kita sudah memainkan judul “Dewi Psyche” yg alhamdulilah sukses dan mendapat banyak pujian dari berbagai pihak. Begitu juga dengan judul yg kedua  “Siapa yg gila?” Alhamdulilah kita memdapat respon yg lebih baik lagi dari judul sebelumnya. Kesuksesan pertunjukan ini bukan bearti tidak ada kendala, banyak kendala yg kami hadapi, mulai dengan pemain, waktu latihan, tempat latihan dan biaya untuk membiayai pertunjukan ini yg cukup besar. Tapi alhamdulilah semuanya bisa dikami atasi dengan barbagai cara dan dengan berbagai usaha yg kami lakukan. Saya berharap pertunjukan KBU ini bisa terus berjalan dan dari tahun ke tahun semakin meningkat kualitasnya. Semoga kami masih bisa memberikan edukasi dan informasi terhadap penonton tentang sesuatu yg berkaitan dengan Psikologi. Selain itu selalu mendapatkan dukungan dan suport dari Fakultas psikologi dan universitas. Semoga semua anggota KBU tetap memiliki semangat untuk terus membuat karya kedepannya. “ (Teks oleh : Ginza Ghibran M.M)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *