DRAMA MUSIKAL STIGMA DISLEKSIA “NADA UNTUK DIKSI”

BANDUNG – Minggu (10/09/2017)  telah diselenggarakan Pagelaran Drama Musikal Stigma Disleksia “Nada Untuk Diksi” di Dago Tea House Bandung. Acara ini diselenggarakan oleh UPM-F Psikologi Kabaret Ungu dan merupakan acara ke-3 yang diselenggarakan oleh Unit Pengembangan Mahasiswa Fakultas Psikologi Unisba. Acara pagelaran drama musical Stigma Disleksia ini terbuka untuk umum dan diselenggarakan 2 sesi dengan sesi 1 dimulai dengan talkshow yang membahas tentang Disleksia. Sesi pertama di mulai jam 13.00 WIB dan sesi 2 di mulai jam 19.00 WIB.

 

Acara ini dibuka oleh MC yaitu kang Aditya Aksani Takwim. Pada sesi 1 dibuka dengan talkshow yang bertemakan Disleksia atau yang sekarang dikenal dengan Spesific Learning Disabilities dengan  narasumber  Zulmansyah dr., Sp. A yang membahas dari sudut pandang kedokteran, lalu Teh Stephani Raihana, M.Psi yang membahas dari sudut pandang psikologi, dan Dewi Daryati yang merupakan terapis disleksia yang dipandu oleh Teh Andhita Nurul Khasanah M.Psi selaku moderator, talk show berlangsung sangat menarik, narasumber menjelaskan disleksia dari bidangnya masing-masing. Ketiga narasumber tersebut sependapat bahwa seseorang dengan keunikannya ini, secara fisik akan terlihat sama dengan anak-anak kebanyakan. Lebih lanjut Teh Stephani Raihana menjelaskan bahwa anak itu mempunyai kekurangan dan kelebihan. Misalnya kelebihannya lebih berani, lebih kreatif dan lain-lain. Lalu anakpun akan mempunyai kekurangan, misalnya sensitive, dan  ada anak yang memang mempunyai keterbatasan misalnya ketika dia tidak secepat teman-temannya, ketika ada B dan kebanyakan anak berkata bahwa itu B, namun dia mengatakan bahwa itu P. jika dilihat dari segi psikologi, secara psikologis akan lebih menangani masalah emosi yang muncul pada anak yang mempunyai keterbatasan tersebut.

 

Pelaksanaan Talkshow (Foto oleh: Kahfi Muhammad)

Setelah pemaparan dari ketiga narasumber, moderator pun memberikan kesempatan kepada penonton untuk bertanya, beberapa penonton pun sangat antusias ketika diberikan kesempatan tersebut. Namun, sayang waktu berlalu terasa cepat sehingga yang diberikan kesempatan hanya dua orang penanya saja. Simpulan dari talkshow tersebut dipaparkan oleh Teh Andhita Nurul Khasanah M.Psi bahwa Disleksia merupakan gangguan membaca dan menulis dan disleksia atau yang sekarang istilahnya menjadi Spesific Learning Disablities ini merupakan masalah yang bersifat herediter atau bawaan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani hal tersebut misalnya dengan therapy dan lain-lain.

 

Setelah talk show berlangsung, Kang Fadhil selaku sutradara memaparkan alasan dipilhnya Stigma Disleksia “Nada untuk Diksi” sebagai tema Pagelaran tahun ini, “tema ini dipilih berawal dari keresahan pribadi dari stigma negative terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus. Terkadang terjadi pembullyan atau dianggap aneh, bodoh, dan kata-kata yang lain yang tidak mengenakkan, dan saya menjadi miris. Teman-teman kabaret ingin mengangkat bagaimana potret perilaku teman-teman sekolah terhadap mereka yang mempunyai keunikan atau bagaimana pandangan orang tua ketika mempunyai anak yang berbeda dari kebanyakan. Lalu dalam cerita ini, bercerita tentang seorang anak yang bernama diksi yang akhirnya menemukan nadanya” ujar kang Fadhil selaku sutradara.

 

(Foto oleh: Kahfi Muhammad)

Lalu tiba lah saat yang dinantikan, yaitu Pagelaran Drama Musikal Stigma Disleksia “Nada Untuk Diksi” tirai pertunjukkan pun terbuka,  dengan setting panggung yang menakjubkan membuat penonton bertepuk tangan. Pemain pun menunjukan acting terbaik sehingga penontonpun takjub melihat drama musical tersebut. Diiringi dengan suara merdu dari tim musik yang tentunya merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Unisba menambah kesan yang sangat membekas di ingatan penonton.

(Foto oleh: Kahfi Muhammad)

 

(Foto oleh: Kahfi Muhammad)

“Bikin baper banget, dengan adanya acara ini karena yang dateng bukan cuman anak psikologi jadi semuanya bisa sadar kalau yang terkena gangguan mental tuh harus dirangkul sama semuanya dan jadinya semuanya ngerti gitu kalau semua anak unik, jadi bisa belajar juga biar kedepannya harus nerapin pola asuh yang benar” ujar Mesayu yang merupakan salah satu dari sekian banyak penonton (Teks oleh: Bintan Rahma Fadila).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *