Kajian Film Dream House

Untitled

 

Judul : Dream House

Sutradara : Jim Sheridan

Pemain : Daniel Craig, Rachel Weisz, Naomi Watts, Marton Csokas, Claire Geare, Taylor Geare

Genre : Mystery Thriller

Produksi : Universal

 

“ The truth can’t stay inside forever”

Rumah bisa diartikan sebagai tempat paling aman dan nyaman bagi suatu keluarga. Di dalamnya, kebahagiaan tercipta dan terlindungi. Itulah yang ada di benak Will (Daniel Craig) dan Libby (Rachel Weisz) ketika pindah dari New York ke sebuah rumah sederhana yang tampak damai di Connecticut. Keduanya, terutama Will, bermaksud lebih fokus pada keluarga dan membesarkan putri-putri mereka yang masih kecil di lingkungan yang lebih baik.

Untitled1

 

Awalnya, semua berjalan dengan baik-baik saja. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia dan harmonis. Kemudian, satu per satu peristiwa aneh terjadi bahkan mengancam keluarga itu. Anehnya, para polisi dan orang-orang di kota itu bersikap tidak peduli dan enggan membantu Will, termasuk seorang wanita tetangga bernama Ann (Naomi Watts).

Ternyata, ada peristiwa mengerikan yang pernah terjadi di rumah itu. Lima tahun yang lalu seorang pria bernama Peter Ward menjadi satu-satunya tersangka sebuah pembunuhan sadis terhadap istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Peter Ward dan Elizabeth Ward adalah sepasang suami istri yang tinggal di kawasan  New Ashford. Mereka memiliki dua orang putri yang bernama Beatrice dan Katherine Ward. Pria itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena depresi berat, tapi sudah dibebaskan dari tuduhan pembunuhan itu karena tidak cukup bukti.

Ternyata, Peter Ward tidak lain adalah dirinya sendiri. Syok berat yang dialaminya setelah pembunuhan sadis itu membuat Will tidak dapat menerima kenyataan bahwa istri dan kedua putrinya telah tewas. Ia mengarang sendiri namanya menjadi Will Atenton dan mengkhayalkan istri dan kedua putrinya masih hidup. Peter (atau Will) terombang-ambing antara dunia nyata dan dunia khayal dalam benaknya sendiri. Ia pun kembali terhanyut kesedihan dan rasa marah terhadap apa yang menimpa keluarganya dan karena tidak bisa mengingat sama sekali apa yang terjadi pada hari naas itu.

Untitled2

Dengan dibantu Libby dalam khayalannya dan tetangganya, Ann, Peter mengingat kembali apa yang terjadi saat itu. Ternyata, dulu keluarga Peter benar-benar keluarga yang bahagia dan harmonis. Masalahnya, ada seorang pembunuh bayaran yang salah menghabisi targetnya. Seharusnya yang dibunuh adalah Ann, atas suruhan mantan suaminya. Si pembunuh menembak istri Peter dan dua anaknya yang masih kecil hingga tewas di tempat.

Untitled3

Cerita berlanjut ke aksi mantan suami Ann yang bermaksud membunuh mereka berdua dan membakar rumah itu sampai habis. Untungnya, Peter segera sadar dan berhasil menyelamatkan dirinya dan Ann setelah melalui baku hantam dengan pria itu.

Kemudian, Peter melakukan perpisahan dengan rumah itu dan keluarganya. Rumah itu pun hancur bersama dengan musnahnya keluarga khayalan Peter. Dan, di akhir cerita, Peter sudah menyelesaikan novelnya yang berjudul “Dream House” dan melanjutkan hidup seperti orang biasa.

Walaupun menuai beberapa kritik tajam, film ini tetap dapat dinikmati dan menyisakan perasaan tertentu setelah menontonnya. Ada rasa keterkejutan karena alur cerita yang tak disangka dan terungkapnya sebuah fakta yang sangat disesalkan. Sebuah keluarga yang bahagia harus berakhir tragis karena suatu kesalahan bodoh yang bersumber dari ketidakbahagiaan sebuah keluarga lain.

Betapa rumah atau keluarga dapat menjadi kuat untuk melindungi, namun dapat pula menjadi rentan terhadap sesuatu dari luar yang tak dapat disangka-sangka. Mungkin ada yang mengatakan itu nasib buruk atau takdir. Tapi, sepahit apa pun peristiwa yang pernah dialami seseorang, bukan berarti hidup ini tidak menyisakan apa pun untuk disyukuri. Peter Ward berhasil lolos dari dua peristiwa pembunuhan, dan itu pasti berarti sesuatu.

Untitled4

 

KAJIAN PSIKOLOGIS FILM THE DREAM HOUSE

Gangguan psikologis Peter Ward merupakan inti cerita dalam film ini setelah pembunuhan salah sasaran. Ia mengalami gangguan kejiwaan dan depresi berat pasca kepalanya ditembak tanpa sengaja oleh mendiang istrinya ketika peristiwa pembunuhan terjadi. Ia pun menjadi tertuduh pembunuh anak dan istrinya sendiri.

Untitled5

Gangguan psikologis Will berawal saat ia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya. Will seperti lupa ingatan akan kejadian lima tahun yang lalu dan membangun halusinasinya sendiri bahwa istri dan kedua anaknya masih hidup berbahagia bersama dirinya. Namun Will tidak tinggal diam menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya, dia yakin bahwa bukan dia pelaku pembunuhan istri dan kedua anaknya, karena dia sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Will terus berusaha mencari tahu kebenaran yang terjadi tentang dirinya dan keluarganya pada peristiwa lima tahun yang lalu.

Sewaktu Peter berhasil menangkap salah seorang berandalan yang menjadikan rumahnya sebagai tempat pemujaan, salah seorang berandalan tersebut terkejut karena ternyata didalam rumah kosong (rumah peter ward) itu masih berpenghuni.

Ketika Peter mendatangi kembali sebuah tempat rehabilitasi. Disanalah terkuak bahwa Peter semasa menjalani pemulihan kejiwaan, membuat keputusan besar untuk merubah namanya menjadi Will Atenton.  Kepala pusat rehabilitasi pun menunjukkan potongan kertas yang berisi tulisan W1- 1L 8-10-10 yang dimungkinkan menjadi inspirasi Peter Ward yang kemudian merangkainya menjadi sebaris nama “Will Atenton”. Ia melakukan ini untuk menenangkan jiwanya karena ia merasa tidak membunuh anak dan istrinya.

Untitled6

Saat Peter tiba dari mengunjungi pusat rehabilitasi. Dalam film terlihat bahwa sebenarnya rumah tersebut kosong tak berpenghuni. Hanya Peter seorang diri yang berada disana. Kemudian satu-persatu muncul kembali halusinasi yang menyerupai sosok anak dan istri Peter. Disanalah Peter berdialog dengan halusinasi yang ia buat sendiri,seolah-olah Peter sedang mengintrogasi anak dan istrinya mengenai kronologis kejadian di malam pembantaian itu.

Di bagian paling akhir dalam film, rumah Peter Ward terbakar akibat ulah dari Jack yang ingin membakar hidup-hidup Peter dan Ann yang saat itu tengah tidak sadarkan diri didalam rumah. Namun sebelum rumah tersebut habis terbakar, Peter segera tersadar dan membawa Ann keluar dari rumah itu. Setelah menyelamatkan Ann, Peter pun masuk kembali kedalam rumah yang penuh api tadi untuk mencari anak dan istrinya. Namun halusinasi yang menyerupai sosok anak dan istri Peter pun menyuruhnya untuk keluar dari rumah itu sebelum terlambat. Halusinasi arwah dari anak dan istri Peter pun seketika menghilang setelah mereka mengucap salam perpisahan. Peter pun berhasil keluar dari rumah itu ditengah-tengah kobaran api. Namun naas bagi Jack, ia terjebak dalam rumah itu dan mati terbakar didalamnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *