Puasa dalam Perspektif Psikologi dan Kesehatan Mental

10Selamat siang Kawan! Masih semangat berpuasa hari ini? Biar pengetahuan kita nambah yuk baca deh yang satu ini InsyaAllah bermanfaat ?

Puasa dalam Perspektif Psikologi dan Kesehatan Mental

Umat islam wajib untuk melaksanakan karena puasa ini merupakan perintah Agama. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.”(QS. Al Baqarah 183).

Inti perintah untuk menjalankan ibadah bagi umat Islam adalah pengendalian diri atau self control. Karena pengendalian diri merupakan salah satu komponen utama bagi upaya perwujutan kehidupan jiwa yang sehat.

Dalam perspektif ilmu psikologi dan kesehatan mental, kemampuan mengendalikan diri adalah merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah seseorang. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan apalagi yang berat.

Manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai-reaksi-reaksi pathologis dalam kehidupan alam pikir (cognition), alam perasaan (affection) dan perilaku (psikomotorik). Bila hal ini terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak harmonis antara diri individu dengan dirinya sendiri (conflik internal) dan juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Puasa dan Pengendalian Diri “Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (Hadist Riwayat Buhari).

Tetapi bagaimana halnya hubungan puasa dengan kesehatan jiwa ? Doktor Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow mencoba menyembuhkan gangguan jiwa dengan berpuasa.  Nicolayef mengadakan penelitian ekperiment yang diperoleh hasil yang sangat baik, yaitu banyak pasien-pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik ternyata bisa sembuh dengan berpuasa.

Bagaimana Puasa Menyembuhkan Gangguan Jiwa ? Puasa adalah merupakan olah raga bathin, dimana manusia yang berpuasa dilatih untuk bersikap jujur (tidak membohongi diri sendiri dan orang lain), disiplin (makan di atur waktunya secara ketat) sabar menghadapi berbagai godaan dan lebih menggiatkan amalan-amalan salih. Prinsip dalam ajaran puasa tersebut persis sama dengan prinsip penyembuhan pasien gangguan jiwa

Pada tahun 1984 WHO telah menyempurnakan batasan sehat dengan menambahkan satu elemen spirutual, sehingga sekarang ini yang dimaksud dengan sehat adalah tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologis dan sosial saja tetapi juga sehat dalam arti spiritual keagamaan.

Dengan mentaati perintah tersebut manusia menjadi tunduk dan mampu “menahan diri” sehingga berimplikasi postif bagi perkembangan kecerdasan emosi (emosional intelegence). Kandungan puasa yang berefek positip bagi perkembangan kecerdasan emosional manusia :

(1) Mengontrol diri. Secara instingtif manusia akan melakukan tindakan makan atau minum begitu merasa lapar atau dahaga. Namun dengan berpuasa manusia dilatih dan menjadi terlatih untuk mengontrol/menahan diri untuk tidak makan atau minum karena ia sadar bahwa dirinya sedang berpuasa.

(2) Menahan emosi. Lewat puasa manusia dilatih dan terlatih untuk menahan emosi.

(3) Mengajarkan arti berbagi, bulan puasa adalah bulan untuk banyak berbagi (beramal). Orang tua bisa memberi contoh dan menjelaskan realitas kepada anak-anaknya  bahwa di luar lingkungan keluarganya  ada orang yang kekurangan, minta anak memberikan sumbangan atau bantuan. Cara ini akan melatih emosi anak untuk lebih peduli (empati) pada orang lain. Selain itu akan mengurangi ego anak, dan mengajarkan anak untuk mau dan senang berbagi dengan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *