SELF COMPASSION: Menerima dan Mengasihi Diri

By: Marchya Devana Titania

Saat melewati masalah dan masa-masa yang sulit, sebagian orang akan merasakan gagal, merasa paling buruk, tidak berguna, sehingga muncul perasaan dan perilaku menyalahkan, menolak, ataupun membenci diri sendiri. Padahal terkadang rasanya lebih mudah untuk menerima dan mengasihi orang lain dibandingkan diri sendiri, ya? Alih-alih menjadi pribadi yang penuh belas kasih dengan sesama, tetapi tidak berbelas kasih pada diri sendiri. Nah, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi pemikiran dan perasaan negatif tersebut adalah dengan menumbuhkan Self-Compassion.

Apa, sih, yang disebut Self-Compassion itu dan bagaimana cara menumbuhkannya?

Self-Compassion?

Self-Compassion menurut Kristin Neff (2003) adalah ketika kita dapat memberikan pemahaman, penerimaan, dan kebaikan pada diri sendiri ketika mengalami kegagalan atau peristiwa yang dirasa kurang baik dengan menganggap bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia yang umum.

Terdapat tiga hal utama pembentuk Self-Compassion yaitu Self-Kindness, Common Humanity, dan Mindfulness. Self- Kindness mengacu pada pemberian hal-hal dan pemikiran yang baik terhadap diri sendiri walaupun mengalami situasi yang kurang baik. Common Humanity yaitu menganggap kesulitan dan kegagalan yang dialami sebagai hal yang wajar dan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Sementara Mindfulness berarti berpikir dengan jelas, menerima, dan menghadapi kenyataan yang terjadi tanpa menghakimi secara negatif peristiwa yang sudah terjadi.

Manfaat Self-Compassion

Seseorang dengan Self-Compassion yang tinggi memiliki kelebihan dan manfaat sebagai berikut :

  1. Dapat menerima diri sendiri baik kelebihan maupun kekurangannya,
  2. Dapat menerima kesalahan dan kegagalan serta menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar,
  3. Dapat memperlakukan dirinya dan orang lain dengan baik dan memahami ketidaksempurnaan manusia (Neff dalam Ramadhani & Nurdibyanandaru, 2014). Selain itu dalam salah satu penelitian terbukti bahwa Self-Compassion dapat membantu menurunkan tingkatan kecemasan, depresi, dan emosi negatif seseorang.

Faktor yang Mempengaruhi

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Self-Compassion diantaranya :

  1. Jenis Kelamin. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat self- compassion lebih rendah dibandingkan pria karena perempuan cenderung lebih memikirkan kejadian negatif yang terjadi di kehidupannya.
  2. Budaya. Contohnya dapat dilihat pada budaya masyarakat Asia yang lebih sering mengkritik diri sendiri dibandingkan masyarakat budaya Barat sehingga Self- Compassion mereka lebih rendah.
  3. Usia. Seseorang akan mencapai tingkat Self-Compassion yang tinggi seiring usia yang berkembang karena lebih bisa menerima dirinya secara positif.
  4. Kepribadian. Tipe kepribadian Extraversion, Agreeableness, dan Conscientiousness memiliki Self-Compassion yang lebih tinggi karena lebih terbuka terhadap lingkungan luar sehingga lebih dapat menerima pengalaman negatif yang dialami.
  5. Peran Orang Tua. Kebanyakan individu yang memiliki Self-Compassion rendah tumbuh di keluarga yang disfungsional dan sering mengkritik dirinya ketika mengalami kegagalan atau kesulitan.

Self-Compassion vs. Self-Love

Self-Love juga bentuk dari menerima dan mengasihi diri sendiri. Lalu apa bedanya dengan Self-Compassion? Self-Love menurut Khoshaba (2012) adalah ketika kita mampu menghargai, mengapresiasi, dan menerima kelebihan dan kekurangan diri. Perbedaannya terdapat pada kapan waktu penerapannya. Self-Compassion diterapkan ketika kita sudah merasakan dan menerima peristiwa yang kurang beruntung, sementara kita dapat menerapkan Self-Love kapanpun kita inginkan.

How-to-Do : Self-Compassion

Setelah mengetahui gambaran dari Self-Compassion, lalu bagaimana cara yang tepat untuk menumbuhkan dan melakukannya? Well, jawabannya mudah banget! Semuanya berawal dari niat dan diri sendiri. Diawali dengan tetap berpikiran positif terhadap peristiwa negatif yang sudah dialami, menghibur dan memberikan perhatian terhadap diri sendiri.

Kristin Neff juga memberikan beberapa tips untuk melatih Self-Compassion seperti berlatih untuk mensyukuri setiap hal-hal yang dialami, berbaik hati pada diri sendiri baik ucapan maupun perbuatan, memaafkan diri atas kesalahan yang sudah diperbuat, dan menghargai diri sendiri atas apa yang sudah dicapai dan dilakukan.

Kesimpulan

Pada dasarnya, Self-Compassion sendiri dapat diartikan sebagai kondisi ketika kita mampu menerima dan berbelas kasih pada diri sendiri dengan tetap berpikir positif disertai dengan memberikan kebaikan dan pengertian pada diri serta memahami bahwa semua peristiwa yang kurang baik adalah bagian yang wajar dari kehidupan. Self-Compassion dapat bertindak sebagai bentuk kesadaran diri bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki kekurangan dan dapat berbuat salah. Sudah sepantasnya kita dapat menerima segala hal yang sudah terjadi, dan tetap menyayangi diri sendiri atas hal tersebut. Semua orang layak untuk mendapatkan penerimaan dan belas kasih baik dari orang lain dan terutama dari diri sendiri. Jika bukan diri kita yang memulai, siapa lagi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *