Sexual Dysfunction: Exhibitionism Disorder

Oleh Nurul Shafira – 10050017175

Kalian yang sudah pernah nonton drama Korea “It’s Okay to Not be Okay” pasti sudah tidak asing dengan scene dibawah ini. Atau kalian juga pernah mengalaminya sendiri sewaktu pulang sekolah atau dari suatu tempat? Saat melihatnya, kalian mungkin merasa jijik, bingung bahkan takut. Orang seperti mereka, kemungkinan mengalami Exhibitionism Disorder.

Secara umum, mereka yang mengalami Exhibitionism senang menunjukkan alat kelamin (flashing) mereka ke orang yang tidak dikenal atau “memainkan” alat kelamin mereka didepan umum. Berdasarkan DSM-V, seseorang dapat didiagnosa dengan Exhibitionism Disorder ketika ia melakukan aktivitas seksual dengan melibatkan orang lain yang tidak memberi kesediaan atau berfantasi seksual akibat tekanan atau gangguan pada fungsi sosial yang berlangsung selama 6 bulan. Mayoritas penderita Exhibitionism Disorder adalah pria, sementara wanita, remaja dan anak-anak biasanya menjadi korban atau target mereka. Penderita akan semakin terangsang ketika ia melihat para korbannya kaget, jijik dan ketakutan ( Murphy & Page, 2008).

Dilansir dari merdeka.com, Exhibitionisme Disorder juga di Indonesia dimana terdapat seorang pria di kota Malang yang dibawa ke kantor polisi setelah memamerkan alat kelaminnya di depan umum begitu pula dengan pria yang memamerkan alat kelaminnya di tempat umum di kota Depok.

Exhibitionism Disorder ini sebenarnya dapat disembuhkan melalui beberapa treatment salah satunya adalah terapi pasangan ( Johnson, 1977). Terapi pasangan dilakukan dengan cara membawa penderita Exhibitionism Disorder dengan pasangannya untuk dilakukan terapi bersama sama. Treatment lain yang dilakukan untuk penderita Exhibitionism Disorder adalah dengan obat-obatan yang bernama Trazodone ( Terao & Nakamura, 2000).

Walaupun perilaku mereka meresahkan, pelaku Exhibitionism Disorder tidak dapat di pidana karena hal tersebut termasuk gangguan jiwa, para terapis juga tidak menganggap perilaku mereka berbahaya. Lantas apa yang dapat kita lakukan ketika melihat hal tersebut? Pelaku akan semakin terangsang jika kita menunjukkan ekspresi terkejut atau takut, oleh karena itu cobalah untuk tidak mempedulikan mereka, alihkan pandangan dan tunjukkan ekspresi dingin.

Reference:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington DC: Author.

Murphy, W. D., and Page, I. J. (2008). Exhibitionism: Psychopathology and theory. In D. R. Laws & W. T. O’Donohue (Eds.), Sexual deviance: Theory, assessment, and treatment (pp. 61-76). New York: Guilford Press.

detikcom, T. (2021). Geger Pria Pamer Kemaluan di Tempat Umum di Depok. Retrieved 6 March 2021,  from  https://news.detik.com/berita/d-4751785/geger-pria-pamer- kemaluan-di-tempat-umum-di-depok

Saruki Digiring ke Kantor Polisi Setelah Pamer Alat Kelamin di Depan Umum | merdeka.com. (2021). Retrieved 6 March 2021, from https://www.merdeka.com/peristiwa/saruki-digiring-ke-kantor-polisi-setelah-pamer-alat-kelamin-di-depan-umum.html

Terao, T., & Nakamura, J. (2000). Exhibitionism and low-dose trazodone treatment. Human Psychopharmacology: Clinical And Experimental, 15(5), 347-349. doi: 10.1002/1099- 1077(200007)15:5<347::aid-hup203>3.0.co;2-s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *