Toxic Positivity: Embrace Your Emotion

By: Nadya Rahma Andjani Putri (10050018245)

“Sabar ya, nanti juga selesai.”

“Kalau orang lain bisa, kamu juga pasti bisa!”

Kalian pernah mendapatkan respon seperti ini? Atau malah kalian yang memberilkan respon ini kepada orang lain?

Kalau dilihat dari niatmya, mungkin respon seperti dua dialog tersebut maksudnya baik. Tapi sebenarnya tidak semua respon yang memberi semangat positif itu membantu. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuki pengaplikasian makna positif berlebihan yang bisa menjadi toxic untuk orang lain bahkan diri sendiriโ€” istilah ini disebut Toxic Positivity.

The Psychology Group dalam artikel berjudul The Dark Side of Positive Vibes mendefinisikan Toxic Positivity sebagai โ€œExcessive and inaffective overgeneralization of a happy, optimistic state that results in the denial, minimization, and invalidation of the authentic human emotional experience”. Toxic Positivity mengasumsikan bahwa terlepas dari segala bentuk emosi menyakitkan yang dialami seseorang, mereka harus tetap positif menghadapinya.

Secara tidak sadar, respon yanng tadinya bertujuan memberikan semangat positif tersebut berakhir memaksa orang lain (bahkan diri sendiri) untuk menelan seluruh emosi negatif. “Positive vibes only” dan “Never give up” adalah contoh lain dari bentuk Toxic Positivity yang secara tidak sengaja sering terucapkan.

SIGNS OF TOXIC POSITIVITY

  • Menyembunyikan perasaan
  • Denial emosi negatif
  • Merasa bersalah atas apa dirasakkan
  • Terobsesi memberi saran tanpa memperhatikan perasaan seseorang
  • Menyepelekan perasaan orang lain

Menurut World Health Organization (WHO), setidaknya satu dari empat orang di dunia mengalami mental disorder selama hidupnya. Pola pikir yang terlalu kaku membuat kita melakukan repressing emotions dimana hal ini sangat tidak sehat untulk mental well-being. Akibat Toxic Positivity, seseorang dapat menjadi sungkan meluapkan beban yang tengah dialami karena denial terhadap perasaannya.

Lalu bagaimana cara kita untuk terhindar dari Toxic Positivity?

ACCEPTING & VALIDATING

Sangat penting untuk belajar menerima segala emosi yang dirasakan sehingga kita dapat memahami cara merespon emosi-emosi tersebut kei depannya. Cobalah untuk memvalidasi perasaan, berempati, dan bersimpati: terhadap diri sendiri dan orang lain! Emosi negatif tidak selalu harusi diabaikan, dengan menerimanya kita akan belajar dan berkembang.

Hendaknya kita menjadi pendengar yang baik pula ketika dibutuhkan karena semua punya kemampuan yang berbeda dalam menghadapi sebuah beban. Jadi, jangan kategorikan perasaan orang lain ya!

Terakhir, it’s okay not to be okay! Kita adalah manusia dan sangat normali untuk merasakan sedih ketika harimu tidak berjalan dengan bailk.i Perlahan, kamu akan bisa bangkit dan mencoba lagi. Your emotion makesi you whole, embrace it!

“I’D RATHER BE WHOLE THAN GOOD.”

-Carl Jung

Sources:

Lukin, Konstantin. 2019. Toxic Positivity: Don’t Alwoys Look The Bright Side. https://wwww.psychologytodoy.com/us/blog/the-man cove/201908/toxic-positivity-dont-always-look-the-bright-side963famp

Quintero, Samara. Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes. https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/#-text=We%620define%20toxic%20positivity 9620os.the%620outh entic%620human%6.20emotiona/%620experience.

(nn). WHO: Mental Disorders Afect One of Four People. www.who.intwhr/2001/medio centre/press release/en/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *